Current Issue

Vol. 3 No. 2 (2021): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
al-Dhikra

PENGANTAR REDAKSI

Alh}amdulillah Jurnal Al-Dhikra Vol. 3, No. 2, 2021 diterbitkan dengan memuat tujuh artikel ilmiah seputar diskursus Al-Qur’an, Tafsir, dan Hadits.

Kajian yang dilakukan oleh Muhammad Dwi Triyono bersama Afizal El Adzim Syahputra yang berjudul, “Dialog Argumentatif Nabi Ibrahim dan Raja Namrud dalam Perspektif Al-Qur’an” menampilkan gaya bahasa Ibrahim ketika berdialog dengan Namrud sebagai strategi komunikasi kepada pemimpin otoriter serta ingkar kepada Allah. Pada kesimpulannya, mereka menegaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan oleh Ibrahim menunjukkan Ibrahim merupakan sosok yang cerdas dengan landasan metode berpikir yang tepat.

Artikel berikutnya ditulis oleh Kairul Anam dengan judul, “Dilema Hukum dalam Kisah Pembunuhan Gulam oleh Khidir dalam surah al-Kahfi,” dalam artikel tersebut, Anam melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Khidir terhadap Gulam dalam surah al-Kahfi tidak digunakan oleh para mufasir ayat-ayat Ahkam sebagai dalil pelaksanaan hukum Qisas. Mereka memahami bahwa dalam konteks ayat tersebut, Khidir merupakan hamba Allah yang ma’sum.

Kajian setelahnya berkaitan dengan adanya kontradiksi terkait pengilhaman Bibel dan pewahyuan Al-Qur’an yang sering dibicarakan oleh para akademisi hingga saat ini. Avina Amalia Mustagfiroh dan Muhammad Alfatih Suryadilaga  melalu respon dalam artikelnya yang berjudul, “Telaah Sosiologi Pengetahuan terhadap Konteks Pewahyuan Al-Qur’an dan Pengilhaman Bibel,” yang berangkat dari respon masih terjadinya perdebatan secara sengit tentang keabsahan antara Al-Qur’an dan Bibel. Avina dan Alfatih melakukan pelacakan kembali dengan pendekatan sosiologi pengetahuan yang menyimpulkan bahwa antara keduanya diturunkan dalam rentang waktu yang cukup jauh berbeda. Pada ujungnya, mereka menguatkan bahwa antara Al-Qur’an dan Bibel memiliki sejarah yang berbeda namun masing-masing berasal dari sumber agama monoteisme.

Kajian berikutnya berkaitan dengan sifat makanan dalam Al-Qur’an dilakukan oleh M. Riyan Hidayat dan Aty Munshihah  dengan judul, “Makanan Sehat dan Halal dalam Al-Qur’an (Studi Analisis dalam Tafsir Al-Qur’anul Madjid An-Nur T.M Hasbi Ash Shiddieqy).” Mereka melakukan pemetaan terhadap ayat-ayat yang memuat soal makanan yang diberikan penisbahan sifat halal dan tayyib. Dalam artikel ini, Hidayat dan Munshihah memaparkan penafsiran Hasbi Ash Shiddieqy terkait ayat-ayat yang berbicara tentang sifat makanan sehat yang harus memuat unsur halal dan tayyib. Pada akhirnya, mereka menyimpulkan bahwa kriteria makanann yang sehat harus dilihat dari segi zat dan cara memperolehnya, sehingga tidak hanya beriimplikasi pada kesehatan lahir tetapi juga kesehatan batin.

Kajian selanjutnya yang dilakukan oleh Moh. Yusni Amru Ghozali yang berjudul, “Polemik di Kalangan Ulama terkait Hadis Mursal,” melacak akar terjadinya multi tafsir dari istilah hadis mursal. Ghozali berangkat dari teori bahwa penggunaan istilah dalam hadis harus tepat, karena berimplikasi pada dampak yang besar. Ia melakukan pemetaan lahirnya istilah “mursal” dalam hadis secara periodik, yang dibagi pada era mutaqaddimin hingga era mutaakhkhirin. Dalam risetnya yang panjang, ia berkesimpulan bahwa masing-masing ulama memiliki kencenderung berbeda dalam memberikan definisi terkait hadis mursal. Namun, dari sekian yang memberikan definisi, para ulama mutaakhkhirin yang dianggap tepat memberikan definisi.

Kajian setelahnya dilakukan oleh Mutawakkil Alallah dengan judul, “Wawasan Al-Qur’an tentang Ukhuwwah dalam Pandangan Tafsir Al-Misbah (Studi atas Konflik Internal Agama)” yang melacak pemaknaan kata Ukhuwwah dalam Al-Qur’an dengan studi pada Tafsir Al-Misbah.  Ia membenarkan bahwa setiap penggunaan kata Ukhuwwah di dalam Al-Qur’an memiliki makna yang berbeda. Pada akhirnya ia menyimpulkan, bahwa dalam Tafsir Al-Misbah juga dilakukan pemetaan makna Ukhuwwah. Di antaranya Ukhuwwah ‘Ubudiyyah, Ukhuwwah Isaniyyah, Ukhuwwah Wataniyyah, dan Ukhuwwah fi al-din al-Islam.

Adapun pada artikel yang ditulis oleh ‘Aqdi Rofiq Asnawi dan Syamsul Hadi Untung dengan judul, “Asru ‘Alamat al-Waqfi fi Tarjamati Ma’ani al-Quran al-Karim (al-Mushaf al-Indunisiyy Anmuzija)” melacak keterkaitan tanda waqaf dengan penerjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia. Adapun yang jadi acuan adalah teks terjemahan dalam Terjemahan Al-Qur’an yang diterbitkan Kemenag pada tahun 2019. Hasilnya, mereka mendapati adanya kesesuaian dalam terjemahan tersebut sesuai dengan penggunaan tanda waqaf.  

Tim Redaksi sangat mengapresiasi para kontributor yang sudah menyumbangkan gagasannya untuk edisi ini. Adapun semua artikel yang tersaji sangat menyumbangkan nilai-nilai akademik yang baik. Pada akhirnya kami menyadari meskipun semua artikel yang tersaji sudah melalui proses editing, dan layouting akan tetapi pasti masih ada banyak kesalahan maupun kekurangan. Atas perhatian dan sumbangsihnya kami ucapkan terimakasih.

Selamat Membaca

Redaktur

Published: 2021-10-26
View All Issues